
Melalui pameran koleksi arsip foto dan karya seri fotografi dalam proyek berjudul The Sweet and Sour Story of Sugar ini, sejarah masa kolonial di Indonesia diceritakan kembali. Proyek ini dibuat oleh Noorderlicht, sebuah institusi fotografi terkemuka dari Belanda. The Sweet and Sour Story of Sugar adalah proyek investigasi fotografi yang membandingkan proses globalisasi yang terjadi melalui komodifikasi gula. Ini cerita tentang gula yang terjadi di empat negara berbeda yaitu Belanda, Brasil, Indonesia, dan Suriname. Di masa lalu, keempat negara itu saling terkait dengan kolonialisme, dengan Belanda sebagai pelabuhan utama dari perdagangan gula tersebut.
Hasil penelitian proyek ini adalah ratusan arsip foto pada abad 19 dan 20 dari empat negara tersebut, yang kemudian dibandingkan dengan seri fotografi karya enam fotografer pilihan Noorderlicht, yang memotret kondisi industri gula di empat negara tersebut pada awal dekade kedua abad 21. Hasil proyek tersebut kemudian dilanjutkan untuk diolah kembali menjadi bentuk presentasi yang baru, dalam suatu kolaborasi internasional bersama sejumlah institusi seni di Brasil, Suriname, dan Indonesia. Kolaborasi dilakukan Noorderlicht dengan WZM-Platforma Brasil Holanda di Sao Paolo, Brasil; dan dengan Tembe Art Studio di Paramaribo, Suriname. Di Indonesia, Noorderlicht bekerjasama dengan ruangrupa di Jakarta, dan Langgeng Art Foundation di Yogyakarta.
Sebagai kurator dan penyelenggara proyek The Sweet and Sour Story of Sugar di Jakarta, ruangrupa membuat proyek seni yang dipresentasikan dalam bentuk program pameran, yang dilengkapi dengan program lokakarya video dan diskusi publik. Pada program pameran, ruangrupa mempresentasikan proyek ini dengan mengutamakan pendekatan lokal yang khas, intim, dan personal. Arsip-arsip foto diolah ke dalam berbagai kemasan produk konsumsi dan cenderamata yang berhubungan dengan gula, dan dipresentasikan di ruang galeri dalam wujud barang-barang dagangan di suatu toko kelontong dan kedai kopi bernama Sugar Town, Inc. Lokakarya video menggubah arsip fotografi ke dalam karya video dan film dengan berbagai pendekatan, dilihat dari sudut pandang seniman muda. Sementara program diskusi membahas hubungan gula dengan nasionalisme di Indonesia dan kaitannya dengan problem nasionalisme di era globalisasi, perburuhan, dan sikap pekerja seni terhadapnya.
Seluruh rangkaian proyek berbasis fotografi ini hendak menunjukkan bahwa gula sesungguhnya menyimpan sejarah yang panjang dan rumit dalam konteks globalisasi yang terus berlangsung. Di dalam setiap butir gula yang kita konsumsi sehari-hari, tersimpan sejuta cerita, yang dapat terus-menerus dimaknai.
ruangrupa dan Noorderlicht mempersembahkan:
The Sweet and Sour Story of Sugar
Pameran dari sebuah proyek kolaborasi antara ruangrupa dan Noorderlicht
Galeri Seni Kunstkring
23 November-14 Desember 2012
Jl. Teuku Umar No.1
Menteng, Jakarta Pusat
T: +62 21 3900899
www.kunstkring-jakarta.com
Sugar Town, Inc.
Pembukaan
Jumat, 23 November 2012
19.00 WIB – selesai
Dengan pertunjukkan musik oleh
Krontjong Toegoe
Pameran
23 November – 14 Desember 2012
Senin – Jumat (10.00 – 17.00 WIB)
Sabtu – Minggu (11.00 – 17.00 WIB)
Kurator: ruangrupa
Berkolaborasi dengan beberapa seniman Jakarta seperti:
Aprilia Apsari, Henry Foundation, Marishka Soekarna, M.G. Pringgotono, oomleo, Rio Farabi,dan Saleh Husein
Menampilkan karya dari lokakarya video dari:
Sugar Fiction
Peserta lokakarya:
Ajeng Nurul Aini, Dian Komala, Jayu Julie, Mira Febri Mellya, Nastasha Abigail Koetin, Raslena
Diskusi
Sugar Stories in Indonesia
Minggu, 2 Desember 2012
14.00 WIB – selesai
Pembicara:
Andi Achdian, sejarawan dan editor Majalah Loka
Martin Suryajaya, penulis filsafat dan editor www.indoprogress.com
Jompet Kuswidananto, seniman / artist
Moderator:
Leonhard Bartolomeus, penulis dan peneliti seni rupa
Diskusi ini akan berlangsung dalam bahasa Indonesia dan Inggris
Program pameran dan diskusi terbuka untuk publik, tidak dipungut bayaran
Informasi lebih lanjut silahkan mengunjungi www.ruangrupa.org | Twitter: @ruangrupa | group Facebook: ruangrupa


